Antara Writer’s Voice dan Character’s Voice, Mana yang Harus Lebih Kuat?

Dalam dunia kepenulisan, ada dua elemen yang sering terdengar tetapi kerap disalahpahami yakni writer’s voice dan character’s voice. Keduanya adalah elemen penting dalam membangun narasi yang kuat, autentik, dan menggugah. Namun, banyak penulis masih keliru dalam memahami keduanya.

Nah, untuk itu artikel ini akan menyajikan penjelasan yang elaboratif mengenai perbedaan keduanya. Tentu, memahami ini penting untuk dilakukan agar proses kepenulisan dapat berjalan dengan lancar tanpa kebingungan. Siap untuk menyimak?

Apa Itu Writer’s Voice dan Character’s Voice?

Mari kita mulai dengan definisi dasar dari writer’s voice dan character’s voice terlebih dahulu agar kamu memahami fondasi awal dari teknik ini! Jika diartikan secara literal, writer’s voice adalah gaya khas penulis. Ini adalah sebuah teknik atau cara mereka dalam menyampaikan cerita, pilihan kata, dan nilai yang melekat dalam setiap tulisan.

Sementara itu, character’s voice adalah suara yang keluar dari dalam karakter mengenai bagaimana mereka berbicara, berpikir, dan memandang dunia dalam cerita. Sekilas, writer’s voice dan character’s voice terdengar seperti hal yang mirip. Namun, mereka memainkan peran yang sangat berbeda.

Kalau harus diibaratkan, writer’s voice adalah sutradara di balik layar, sedangkan character’s voice adalah aktor yang tampil di panggung.

Di dalam dunia kepenulisan, writer’s voice atau ciri khas penulis biasanya akan terlihat sama dari satu karya ke karya yang lainnya. Sedangkan, character’s voice akan berbeda bergantung dengan topik serta alur ceritanya.

 

Mengapa Writer’s Voice dan Character’s Voice Itu Penting?

Di dalam sebuah cerita, peran writer’s voice dan character’s voice sangatlah penting sebab keduanya dibutuhkan dalam karier serta proses kepenulisan. Tanpa salah satunya saja, karyamu bisa jadi tidak memiliki ”nyawa”. Namun, yang terpenting kamu perlu menemukan writer’s voice atau ciri khas penulis terlebih dahulu!

 

Menemukan Writer’s Voice

Ketika seseorang membaca tulisanmu dan tahu bahwa itu kamulah penulisnya, meskipun tanpa mencantumkan nama, itu artinya writer’s voicemu sudah terbentuk dengan kuat. Ciri khas ini tidak hanya muncul dari pilihan kata, tetapi juga dari sudut pandang, ritme, bahkan sikap terhadap topik yang dibahas.

Misalnya, jika kamu sering menulis dengan nada yang reflektif dan filosofis, maka writer’s voice kamu cenderung menenangkan dan mengajak berpikir. Sebaliknya, jika kamu lebih suka gaya cepat, tegas, dan humoris, maka suara itu akan menyatu dalam setiap cerita yang kamu buat.

Mungkin, kamu sudah sering membaca sebuah novel atau buku genre lain yang menguarkan ciri khas dari seorang penulis. Contohnya, Tere Liye yang sangat dikenal lewat gaya penulisan sastra dan isu sosialnya. Atau, Pramoedya Ananta Toer yang sarat akan ciri khas penulis kritik politik dan pemerintahan meski genre bukunya novel.

 

Membentuk Character’s Voice

Nah, setelah berhasil membangun dan menemukan ciri khas ini, kamu bisa mulai belajar menciptakan suara karakter di dalam ceritamu! Namun yang sering terlupa dalam proses penulisan, khususnya menulis fiksi atau narasi kreatif adalah bahwa writer’s voice dan character’s voice harus saling melengkapi, bukan bertabrakan.

Di sinilah character’s voice mengambil panggung. Karakter dalam cerita bukan hanya “produk” imajinasi, tapi mereka harus terasa hidup. Mereka harus punya suara sendiri yang bisa dibedakan dari penulisnya.

Bayangkan kamu sedang menulis tentang seorang remaja pemberontak dari pinggiran kota. Tentu dia tidak akan bicara dengan gaya formal, penuh kutipan klasik, atau narasi panjang lebar seperti profesor sastra.

Jika dalam dialog atau pikiran internal si remaja kamu masih menggunakan writer’s voice yang kaku dan dewasa, maka character’s voice akan kehilangan kekuatan dan terasa tidak jujur.

Membiarkan character’s voice tumbuh artinya memberi ruang bagi karakter untuk “bernapas” sendiri. Kamu sebagai penulis harus cukup fleksibel untuk mundur sedikit dan membiarkan karakter berbicara dengan caranya sendiri.

Nah, sekarang kamu sudah tahu bahwa writer’s voice dan character’s voice sangat berbeda, kan? Meski begitu ada hal lain yang perlu kamu ketahui yakni cara untuk menyeimbangkan keduanya, agar tidak mempengaruhi fungsi satu sama lain. Namun, bagaimana caranya?

 

Menyeimbangkan Writer’s Voice dan Character’s Voice

Bisa dibilang, teknik ini akan terasa sulit bagi para penulis pemula. Namun, tidak ada salahnya untuk belajar! Nah, agar writer’s voice dan character’s voice tidak saling memengaruhi, kamu sebagai penulis harus memiliki kesadaran naratif. Apa maksudnya?

Dalam bagian-bagian narasi umum seperti deskripsi setting dan alur, writer’s voice bisa lebih dominan. Di sisi lain, saat sudah masuk ke dalam bagian dialog, monolog internal, atau keputusan karakter, character’s voice harus mengambil alih.

Penulis yang sudah profesional bisa beralih di antara dua suara ini tanpa membuat pembaca merasa aneh. Peralihan yang mulus ini menciptakan dinamika dan kedalaman yang sangat penting dalam cerita.

Sebagai contoh, di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata menunjukkan kekuatan writer’s voice dan character’s voice yang berpadu harmonis. Narasi diceritakan dari sudut pandang karakter utama, Ikal dengan gaya bahasa yang puitis tetapi sederhana.

Pembaca bisa merasakan ciri khas Andrea Hirata yang penuh imajinasi dan humor tetapi pada saat yang sama, ciri khas Ikal sebagai anak kampung juga begitu nyata dan menyentuh. Andrea Hirata berhasil menjaga kedua elemen tetap kuat tanpa menutupi atau bahkan menghilangkan salah satunya.

Dikarenakan kemampuan teknik ini cukup rumit dan sulit, penulis pemula harus belajar mengasahnya! Bagaimana caranya? Simak penjelasan di bawah ini!

 

Kami Akan Bantu Temukan Writer’s Voice dan Character’s Voice?

Seiring berkembangnya zaman, kemajuan teknologi dan pengetahuan terus melesat. Dunia kepenulisan pun turut merasakan dampaknya. Dulu, menulis dan menerbitkan buku terasa seperti mimpi besar yang sulit digapai.

Namun kini, semuanya menjadi lebih mungkin, bahkan bisa dikatakan mudah, asalkan kamu tahu langkah yang tepat. Rasanya semua masalah kepenulisan pasti ada solusinya dan ya, memang benar!

Kalau saat ini kamu punya keinginan kuat untuk menerbitkan buku, tetapi terhambat oleh waktu, energi, atau bahkan merasa belum cukup percaya diri dengan kemampuan menulismu, jangan khawatir. Jalan tetap terbuka lebar. Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Salah satu cara paling efektif adalah dengan menggandeng jasa penulis profesional. Langkah ini bukan hanya sekadar solusi teknis. Lebih dari itu, ini adalah bentuk keseriusan dan keberanianmu dalam membawa ide dan kisah yang kamu miliki menjadi karya yang utuh, menarik, dan siap dibaca publik.

Kamu akan dibantu dari awal mulai dari menyusun konsep, menggali kekuatan cerita, hingga mengeksekusinya dalam gaya penulisan yang sesuai dengan kepribadianmu sebagai penulis.

Kami tidak hanya menuliskan naskah untukmu, tapi juga akan membantu kamu menemukan dan memperkuat writer’s voice milikmu sendiri. Kami pun akan memastikan setiap karakter dalam tulisanmu punya voice yang khas dan hidup, sehingga pembaca merasa seolah sedang menyaksikan kisah itu terjadi di depan mata.

 

Yuk, Mulai Menulis!

Bayangkan memiliki buku yang tidak hanya selesai, tetapi juga terasa seperti benar-benar ‘kamu’. Buku yang mampu menyampaikan isi hatimu dengan utuh dan mendalam, seolah kamu sendirilah yang menulis setiap kata. Itulah hasil kerja kolaboratif antara kamu dan penulis profesional—menghadirkan buku yang autentik, kuat, dan memiliki daya pikat.

Jadi, jika kamu ingin menemukan writer’s voice dan character’s voice dalam tulisanmu, dan ingin menjadikan idemu sebuah karya yang utuh dan membekas, maka inilah saatnya untuk mulai. Kami hadir untuk mendampingimu, mewujudkan keinginanmu menjadi penulis, tanpa perlu merasa terbebani oleh proses yang panjang.

Langkah pertamamu hanya sejauh satu klik. Hubungi https://jasapenulisprofesional.com untuk informasi lebih lanjut. Biarkan kami bantu kamu menyuarakan kisahmu dengan cara yang paling kuat dan menyentuh. Karena setiap cerita layak untuk diceritakan, dan setiap penulis termasuk kamu layak untuk didengar.

Bagikan Ke :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top